Langsung ke konten utama

Catatan yang mengingatkan

Ditulisnya artikel ini berdasarkan keprihatinan pribadi penulis pada realita yang cukup sepele di kampusnya. sebuah keresahan pada segi kesadaran, proses belajar, dan ketertiban dikelas. Pengamatan tentang fenomena ini bermula ketika saya mendapat beberapa pertanyaan dari seorang teman yang sedang mengerjakan paper dasar jurnalistik. pertanyaan ini mengenai pandangan saya terhadap kondisi birokrasi dikampus. 





Jika ditanya, saya dan teman-teman pembaca pasti setuju bahwa aktifitas birokrasi dikampus lumayan ramai dan sangat lumrah terdengar oleh telinga, terutama kegiatan birokrasi lewat bermacam tuntutan dan propaganda yang gencar dilakoni oleh para Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tuntutan transparansi, fasilitas kampus yang tak memadai, dan yang terutama saya garis bawahi adalah mengenai uang kuliah tunggal mahasiswa. saya sendiri sangat mengapresiasi segala jerih payah teman-teman eksekutif dalam membela, mengadvokasi, dan keberpihakan kepada kami para mahasiswa. namun apa yang menjadi perhatian saya adalah, sudahkah teman-teman mahasiswa yang engkau bela menyadari peran mereka sesungguhnya sebagai mahasiswa?

Universitas pembangunan nasional, dari namanya saja sudah jelas bertujuan untuk mendidik para akademisi dengan harapan dapat membangun negara, membangun negara adalah sebuah perjuangan, membangun negara adalah dedikasi. bukan sekedar mengisi absensi. tapi sempatkah anda pembaca tulisan ini sejenak berfikir, "apakah saya sudah memantaskan diri ada disini?". Menjadi Mahasiswa  adalah sebuah tanggung jawab dan bentuk uji konsistensi pada keputusan, berani mengikrarkan diri untuk masuk perguruan tinggi, berarti harus mengerti dan menjalankan segala macam kewajiban sebagai seorang mahasiswa.

Mahasiswa yang pada hakikatnya adalah seorang scholar, atau akademisi bukankah telah jelas bahwa tugas utamanya adalah belajar. akan tetapi pada realitanya mulai sulit saya temui khususnya dikampus kita dimana terdapat sebuah forum pembelajaran diisi mahasiswa yang benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa. cobalah untuk mengingat kembali, betapa banyak animo pendaftar universitas yang kita berhasil lolos kedalamnya, Universitas yang kini menjadi Perguruan Tinggi Negeri. berpuluh ribu manusia yang menawarkan dirinya untuk menerima sebuah kewajiban, yakni kewajiban untuk belajar dan membangun negara kelak. setelah mengingat itu semua, saya sadari sungguh sebuah kehormatan untuk menerima kesempatan ini dan menjadi mahasiswa yang mengabdi untuk membangun negeri.

pernahkah terlintas dibenak anda bahwa kita sedang berada pada sebuah institusi pendidikan yang kini telah dinegrikan, hal tersebut menjadi konsekuensi bahwa pendidikan kita telah disubsidi pemerintah. pajak yang dibayarkan oleh seluruh penduduk Indonesia kelak akan membayar biaya pendidikan yang kita peroleh. tidakkah anda merasa memiliki tanggung jawab pada negeri ini, tanggung jawab pada mereka yang membayar biaya pendidikan kita. lalu apa yang akan anda lakukan sebagai mahasiswa sebagai bentuk pemenuhan tanggung jawab tersebut?

sayangnya, saya belum menemukan itikad baik tersebut pada diri teman-teman. kesadaran untuk lebih fokus dan tertib selama kegiatan belajar di kelas masih sangat jarang teman-teman tunjukkan. pernah saya mencoba untuk hadir pada sebuah kelas dikampus berbeda. sebagai gambaran, kelas tersebut  menjalankan kelas yang diisi kurang lebih sebanyak seratus mahasiswa ditiap sesinya. namun yang membuat saya sangat terbelalak, mengapa dengan jumlah sebanyak itu mereka dapat tertib dan benar-benar mengikuti seluruh pelajaran dengan baik dan tentunya tidak mengganggu teman lain yang sedang belajar. saya rasa hal tersebut bukanlah hal yang sulit untuk kita lakukan, selama masih ada kesadaran diri bahwa kita adalah seorang mahasiswa.

seringkali pertanyaan tentang kondisi kelas yang saya lemparkan kebeberapa teman  dibalas dengan keluh kesah oleh mereka, "mereka itu berisik banget sih. kalau ngga mau belajar ya gak apa, tapi jangan ganggu yang lain dong," hampir seluruhnya mengatakan pendapat yang sama mengenai perasaan mereka. menurut saya ini merupakan hal penting untuk dibenahi, karna tak hanya berdampak pada orang tersebut melainkan juga orang disekitarnya. 

Jika difikir-fikir, bukankah terlalu mahal biaya yang teman keluarkan untuk mengabaikan ilmu yang ditawarkan, bukankah terlalu banyak waktu yang teman habiskan hanya untuk sebuah tanda tangan dalam absensi, bukankah terdapat harapan dari orang tua disetiap anda pergi untuk melakukan studi?

Saya selalu berharap teman-teman dapat memunculkan kesadaran tersebut didalam diri kalian sendiri. mulailah memandang bahwa diri teman memiliki tanggung jawab yang berat, tanggung jawab pada negara yang menyediakan pendidikan, tanggung jawab pada orang tua yang menaruh harapan pada anda, dan tanggung jawab pada Tuhan yang memberi anda kesempatan menjadi mahasiswa dan tidak semua orang mendapatkannya.


Artikel ini diselesaikan tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan hal apapun dari teman-teman. hanya saja terdapat tanggung jawab sosial yang saya miliki sebagai seorang rekan seperjuangan untuk mengingatkan. Saya berharap teman-teman dapat mengambil inti sari dari tulisan ini dan mulai memantaskan diri untuk disebut sebagai mahasiswa dengan belajar dan berperilaku layaknya mahasiswa. semoga kita sama-sama dapat memperbaiki diri kedepannya sebagai seorang pioneer pembangunan bangsa.


Ps: Artikel diselesaikan dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa di malam hari pukul 23.15 dengan penuh kesadaran dan alunan musik indie

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinding

Kala itu Senja, ia kembali datang menyapa di garis cakrawala. Lamunanku terpecah, benakku sibuk  merangkum diksi, mulutku bergunjing, Dihadapan dinding. Anganku kosong, imaji-ku sepi,  mengingatmu, dan ketiadaanmu saat ini Sesekali kudekap pundakku sendiri Terasa Hilangnya purnama kehangatan  Yang menawarkan rumah, disaat keadaan menambah amarah. Di dinding ini aku luapkan segalanya Ketika pagi membuka hari Ketika malam menyambung resah Segala tawa pilu, air mata sedu, Memenjarakan keinginan, dari tempat yg seharusnya ia dapatkan. Tapi apa yang dinding mau Hanya mendengar cerita-cerita, yang tak pernah sekalipun kabar suka cita. Kuingin ada disamping orang-orang itu Pekikan menggetirkan, namun kurindui Lembutnya jari-jari yang menggerayangi kakiku, sudah lama tak saling menemui Dalam sumpah serapah yg kuucap pada dinding ini, tak pernah lupa ku teriakkan pada sang pencipta. Jaga nyawa itu untukku! Sekali lagi,aku hadapka...

Angkringanku

Angkringanku Adalah tempat lamunku Kepul asap dibawah atap Ruang murah meredam marah Kopi hangat mengenalkan nikmat Tempat pulang, dari nalar yang hilang angkringanku.. bukan berarti milikku sesungguhnya angkringan milik yang maha Pencipta melalui bu sum, angkringan dititipkan, untuk makan, dan selonjoran gorengan tempe, 500 satunya, sate ayam, 1000 rupiah tiap tusuknya angkringanku, tempat merdeka, makan di masa seadanya angkringanku, jangan sesekali berani menipu bu sum memang tak melihat, tetapi malaikat, senantiasa mencatat nasi kucing itu, tak seberapa, jangan sampai karenanya, engkau batal masuk surga tetapi bila tuan tak berharta, sungguh tak apa, silahkan bayar, ketika kiriman sudah ada Yogyakarta, 14 Juli, didalam semilir lembut angin sore

Biru

Ku saksikan langit, begitu biru pagi ini kawanan cahaya jalanan, satu persatu padam menyambut hari fajar yang cerah, terang merekah, memberi suatu pertanda benarkah pagi ini, ada sesuatu yang kan berbeda? ku telusuri jejak-jejak yang kemarin kutinggalkan dibalik terpaan silau cahaya, ku bersembunyi, merendah hati dari segala perasaan marah, perasaan gundah, ku menahan diri apakah kali ini, semesta akan mendukungku, setelah sekian lama membenci? wahai langit biru, berikanlah harapan, untuk hidup yang terlalu muram senantiasa ku tunggu, segala balasan, dari semangatku yang tak padam hadirkan padaku, semua jawaban dari pertanyaan yang sejak lama didiamkan Haru birukan hariku, agar tetap tegar, menjalankan kehidupan.