Langsung ke konten utama

Dinding

Kala itu Senja, ia kembali datang menyapa di garis cakrawala.
Lamunanku terpecah, benakku sibuk 
merangkum diksi, mulutku bergunjing,
Dihadapan dinding.

Anganku kosong, imaji-ku sepi, 
mengingatmu, dan ketiadaanmu saat ini
Sesekali kudekap pundakku sendiri
Terasa Hilangnya purnama kehangatan 
Yang menawarkan rumah, disaat keadaan menambah amarah.

Di dinding ini aku luapkan segalanya
Ketika pagi membuka hari
Ketika malam menyambung resah
Segala tawa pilu, air mata sedu,
Memenjarakan keinginan, dari tempat yg seharusnya ia dapatkan.
Tapi apa yang dinding mau
Hanya mendengar cerita-cerita, yang tak pernah sekalipun kabar suka cita.

Kuingin ada disamping orang-orang itu
Pekikan menggetirkan, namun kurindui
Lembutnya jari-jari yang menggerayangi kakiku, sudah lama tak saling menemui
Dalam sumpah serapah yg kuucap pada dinding ini, tak pernah lupa ku teriakkan pada sang pencipta.
Jaga nyawa itu untukku!

Sekali lagi,aku hadapkan diriku padamu, wahai Dinding
Tangguhku sama hebatnya oleh perkasamu
Egoku sekeras baja-baja jeruji, 
yang kau gunakan untuk mengekang raga ini
Aku selalu, 
dan akan terus disini, 
berbicara denganmu, 
memaki olehmu, 
dingin diterpa bayanganmu
Disini
Dan terus disini
Dalam doa, 
Agar anak-anakku, cintaku, tetap teguh dalam janji,
Menunggu ayahnya, yang hingga kini terbelenggu jeruji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angkringanku

Angkringanku Adalah tempat lamunku Kepul asap dibawah atap Ruang murah meredam marah Kopi hangat mengenalkan nikmat Tempat pulang, dari nalar yang hilang angkringanku.. bukan berarti milikku sesungguhnya angkringan milik yang maha Pencipta melalui bu sum, angkringan dititipkan, untuk makan, dan selonjoran gorengan tempe, 500 satunya, sate ayam, 1000 rupiah tiap tusuknya angkringanku, tempat merdeka, makan di masa seadanya angkringanku, jangan sesekali berani menipu bu sum memang tak melihat, tetapi malaikat, senantiasa mencatat nasi kucing itu, tak seberapa, jangan sampai karenanya, engkau batal masuk surga tetapi bila tuan tak berharta, sungguh tak apa, silahkan bayar, ketika kiriman sudah ada Yogyakarta, 14 Juli, didalam semilir lembut angin sore

Biru

Ku saksikan langit, begitu biru pagi ini kawanan cahaya jalanan, satu persatu padam menyambut hari fajar yang cerah, terang merekah, memberi suatu pertanda benarkah pagi ini, ada sesuatu yang kan berbeda? ku telusuri jejak-jejak yang kemarin kutinggalkan dibalik terpaan silau cahaya, ku bersembunyi, merendah hati dari segala perasaan marah, perasaan gundah, ku menahan diri apakah kali ini, semesta akan mendukungku, setelah sekian lama membenci? wahai langit biru, berikanlah harapan, untuk hidup yang terlalu muram senantiasa ku tunggu, segala balasan, dari semangatku yang tak padam hadirkan padaku, semua jawaban dari pertanyaan yang sejak lama didiamkan Haru birukan hariku, agar tetap tegar, menjalankan kehidupan.