Langsung ke konten utama

Angkringanku



Angkringanku

Adalah tempat lamunku
Kepul asap dibawah atap
Ruang murah meredam marah
Kopi hangat mengenalkan nikmat
Tempat pulang, dari nalar yang hilang


angkringanku..

bukan berarti milikku
sesungguhnya angkringan milik yang maha Pencipta
melalui bu sum, angkringan dititipkan, untuk makan, dan selonjoran
gorengan tempe, 500 satunya, sate ayam, 1000 rupiah tiap tusuknya
angkringanku, tempat merdeka, makan di masa seadanya


angkringanku,

jangan sesekali berani menipu
bu sum memang tak melihat, tetapi malaikat, senantiasa mencatat
nasi kucing itu, tak seberapa, jangan sampai karenanya, engkau batal masuk surga
tetapi bila tuan tak berharta, sungguh tak apa,
silahkan bayar, ketika kiriman sudah ada

Yogyakarta, 14 Juli, didalam semilir lembut angin sore

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinding

Kala itu Senja, ia kembali datang menyapa di garis cakrawala. Lamunanku terpecah, benakku sibuk  merangkum diksi, mulutku bergunjing, Dihadapan dinding. Anganku kosong, imaji-ku sepi,  mengingatmu, dan ketiadaanmu saat ini Sesekali kudekap pundakku sendiri Terasa Hilangnya purnama kehangatan  Yang menawarkan rumah, disaat keadaan menambah amarah. Di dinding ini aku luapkan segalanya Ketika pagi membuka hari Ketika malam menyambung resah Segala tawa pilu, air mata sedu, Memenjarakan keinginan, dari tempat yg seharusnya ia dapatkan. Tapi apa yang dinding mau Hanya mendengar cerita-cerita, yang tak pernah sekalipun kabar suka cita. Kuingin ada disamping orang-orang itu Pekikan menggetirkan, namun kurindui Lembutnya jari-jari yang menggerayangi kakiku, sudah lama tak saling menemui Dalam sumpah serapah yg kuucap pada dinding ini, tak pernah lupa ku teriakkan pada sang pencipta. Jaga nyawa itu untukku! Sekali lagi,aku hadapka...

Biru

Ku saksikan langit, begitu biru pagi ini kawanan cahaya jalanan, satu persatu padam menyambut hari fajar yang cerah, terang merekah, memberi suatu pertanda benarkah pagi ini, ada sesuatu yang kan berbeda? ku telusuri jejak-jejak yang kemarin kutinggalkan dibalik terpaan silau cahaya, ku bersembunyi, merendah hati dari segala perasaan marah, perasaan gundah, ku menahan diri apakah kali ini, semesta akan mendukungku, setelah sekian lama membenci? wahai langit biru, berikanlah harapan, untuk hidup yang terlalu muram senantiasa ku tunggu, segala balasan, dari semangatku yang tak padam hadirkan padaku, semua jawaban dari pertanyaan yang sejak lama didiamkan Haru birukan hariku, agar tetap tegar, menjalankan kehidupan.